Ayah yang mencintai hujan


“Ibumu adalah hujan. Rinainya tanda cinta. Angin yang kau hirup setelah hujan adalah nafasnya. Rintiknya berarti ia sedang tersenyum, mengamati awan-awan mungil yang menari patah-patah. Derasnya tak berarti murka. Ia hanya kesal karena panas terlalu lama menyengat. Ia sendu karena kamu penuh peluh dan tanaman akasia di halaman rumah yang layu. Ketika tetesnya terhenti dan terganti dengan rona pelangi, bisa jadi ia sedang tersipu malu karena melulu kugombal dengan lagu rindu. Oleh karena itu ketika hujan turun, lagu ini akan selalu kudendangkan agar ibumu pamit dengan wajah yang cantik”.
Lalu ayah kembali menyanyi lagu rindu karya dia sendiri. Menikmati rintik-rintik hujan di teras rumah kami, menyilangkan kakinya di kursi rotan tua yang sesepuh dirinya. Kepulan asap dari secangkir teh panas yang belum tersentuh menjadi penghangat cuaca yang mulai dingin sore ini. Ia menyanyi dan bersenandung sambil memejamkan matanya.
Ayah pernah bercerita bahwa Ibuku adalah hujan. Ayah bertemu cinta pertamanya  pada sebuah sore yang kelabu saat langit sedang abu-abu. Tetes air mulai turun satu-satu lalu berpuluh-puluh. Langit tak lagi malu-malu menumpahkan apa yang ada pada dirinya. Tetesan yang semula lunak makin lama makin deras lalu menghapus sisa-sisa darah yang merembes dari luka di pelipis kiri dan luka bacokan di perut kanan ayah. Ayah lunglai di tengah jalan lalu menatap langit abu-abu yang memudar.
Sore itu, segerombolan orang tak dikenal tiba-tiba memasuki toko kelontong milik ayah. Mengobrak-abrik semua barang jualan yang ada. Mulutnya penuh sumpah serapah, menghambur tumpah kemana-mana. Suasana di luar toko sunyi. Sepertinya semua orang sedang bersembunyi, tak mau berurusan dengan para algojo itu. Pemimpin gerombolan itu mengutarakan maksud kedatangannya tanpa basa-basi. Ia ingin menagih hutang berikut dengan bunganya yang tidak sedikit. Tapi sudah beberapa minggu toko sedang sepi, tak ada pemasukan untuk sekedar bernafas menyambung hidup apalagi harus membayar hutang.
Kakek yang duduk di meja kasir memohon iba dari rentenir itu untuk diberi kelonggaran waktu,sekali lagi. Lintah darat itu murka, hendak mereka pukul kakek yang sudah renta, tapi ayah segera maju untuk melindungi kakek. Mereka tak terima, ayah akhirnya menjadi bulan-bulanan mereka. Bogem mentah tak hentinya mengenai wajah ayah. Ayah tau akan kalah dan ia tak ingin kakek menjadi sasaran berikutnya. Ia berlari keluar toko, kemana saja agar perhatian mereka tetap tertuju pada ayah.
Gerombolan itu turut berlari mengikuti ayah. sore yang kelabu dan toko-toko disekitar menutup diri. Tak ada saksi dari peristiwa yang menimpa ayah. Ayah sudah terlampau lemah untuk berlari. Wajahnya memanas akibat pukulan tadi. Seketika ayah rebah di jalan. lelaki yang bertubuh paling besar dari gerombolan itu mengeluarkan sebilah pisau dari balik jaketnya. Menikam sekali tepat di perut sebelah kanan ayah. Ayah ambruk, mereka kabur.
Sore itu, ayah mengira ini adalah akhir dari ceritanya di dunia. Bersama dengan turunnya tetesan hujan dari langit, dari pandangan mata ayah yang mulai kabur, muncullah ibu. Ayah mengira, genangan-genangan air telah menggumpal, lalu membentuk seonggok daging, lalu berubah wujud menjadi sesosok wanita yang menjadi penolong ayah.
Ibu membawa ayah ke rumah sakit, hingga akhirnya ayah tak jadi meregang nyawa. Ketika ayah sudah sehat, ayah mencari ibu. Entah mengapa hujan selalu menjadi penanda mereka bertemu, setiap sore di bulan April, hujan turun. Dan disaat itulah ibu muncul dari balik payung merah jambu melewati jalan tempat mereka pertama kali bertemu.
Perkenalan mereka makin lama makin akrab, dan ayah memutuskan untuk menikahi ibu. Pernikahan mereka pun disambut gerimis hujan. Ayah amat bahagia telah mempersunting wanita hujan itu. Dan ibarat hujan adalah pembawa rejeki, kehadiran ibu menjadi rejeki bagi ayah. Toko kian ramai, dan hutang-hutang mereka lunas sudah.
Kebahagian ayah semakin melimpah, tatkala ibu memiliki aku dalam tubuhnya. Ayah senang bukan kepalang. Ia makin giat bekerja. Pada malam hari sebelum tidur, tak lupa ia mengelus-ngelus aku dalam  perut ibu, berharap aku akan tidur dengan nyenyak, dan segera bertemu dengan ayah dalam keadaan sehat.
Lalu hari ketika aku terbangun dari perut ibu pun tiba. Ayah tergopoh-gopoh membawa ibu ke rumah sakit. Hujan sedang deras-derasnya. Di malam yang dingin dan semakin dingin karena hujan tak berhenti sejak pagi tadi, aku akhirnya terbangun di pangkuan ayah. Namun ibu tetap tertidur, ia kembali menjadi genangan hujan.
 Pemakaman ibupun di sambut rintik hujan. Entah langit bersedih atau tersenyum karena genangan air hujan sebentar lagi akan menguap dan bersatu dengan awan. Tapi bagi ayah tidak ada perpisahan antara dirinya dengan ibu. Setiap hujan turun, ayah tahu ibu sedang ada bersamanya.
Sejak saat itu ayah menjadi pemuja hujan. Setiap hujan turun ayah akan bersenandung lagu rindu ciptaannya sendiri. Ayah bahagia karena bercengkrama dengan cinta pertamanya. Tak ada cinta kedua dan pernikahan kedu setelah ibu. Bagi ayah, hanya ibu wanita yang ada di hatinya. Ayah mengurusku sendirian hingga aku dewasa.
***
“Ibumu adalah hujan. Rinainya tanda cinta. Angin yang kau hirup setelah hujan adalah nafasnya. Rintiknya berarti ia sedang tersenyum, mengamati awan- awan mungil yang menari patah-patah. Derasnya tak berarti murka. Ia hanya kesal karena panas terlalu lama menyengat. Ia sendu karena kamu penuh peluh dan tanaman akasia di halaman rumah yang layu. Ketika tetesnya terhenti dan terganti dengan rona pelangi, bisa jadi ia sedang tersipu malu karena melulu kugombal dengan lagu rindu. Oleh karena itu ketika hujan turun, lagu ini akan selalu kudendangkan agar ibumu pamit dengan wajah yang cantik”.
Lalu ayah kembali menyanyi lagu rindu karya dia sendiri. Menikmati rintik-rintik hujan di teras rumah kami, menyilangkan kakinya di kursi rotan tua yang sesepuh dirinya. Kepulan asap dari secangkir teh panas yang belum tersentuh menjadi penghangat cuaca yang mulai dingin sore ini. Ia menyanyi dan bersenandung sambil memejamkan matanya, lalu tertidur di kursi rotan tuanya dalam nyenyak yang begitu nyenyak hingga tak bangun lagi. Ayah akhirnya bertemu kembali dengan ibu pada suatu sore yang hujan, di bulan April.

Komentar

Postingan Populer